This is My last post.. I'm gonna close this blog. Good bye..
Monday, October 27, 2008
Thursday, October 9, 2008
Jerawaatt....
Aduhh. Jerawat da ga ilang dua bulan neh.. Jadi inget tanda di wajah penyanyi Pink. :p

Wakakakakka... ^^
Jangan-jangan ini the secret-nya gue, gara2 dulu pengen punya tanda kaya Pink?! Weks, lama banget terpenuhinya :p Kereeennn. [Apa sih???]
Wrote by Laura 0 comments
Here:
Lucu,
My Delusional Thinking,
Tentang Aku
Wednesday, October 1, 2008
Universe is About Other Being

THIS IS ME.

Ini adalah tempat aku tinggal -> Jakarta yang sangat ramai

Jakarta hanyalah bagian kecil dari Indonesia

Indonesia, negara kepulauan kecil yang terapung diatas keindahan birunya samudra planet bumi

Bumi adalah planet ketiga di Tata Surya Matahari kita

Salah satu titik sinar yang kita lihat diatas (Galaksi Bima Sakti) adalah matahari. Sisanya adalah bintang-bintang lain yang juga memiliki tata suryanya masing2. Bayangkan berapa banyaknya planet diluar sana.

Dan galaksi kita hanyalah satu dari lingkaran galaksi2 lainnya yang berada dalam alam semesta ini.
Sebanyak bintang dilangit yang kita lihat setiap malam. Sebanyak itulah 'matahari-matahari' dari 'bumi-bumi' yang lain.
Adalah seorang ahli fisika abad duapuluhan bernama Enrico Fermi. Ketika ia sedang memperbincangkan kemungkinan adanya kehidupan lain di alam semesta, pikiran ia berkecamuk menghitung angka-angka kemungkinan tersebut. Fermi menatap langit dan berkata 'Where is everybody?'. Itu adalah Fermi paradox yaitu paradoks yang dipertanyakan Fermi: mungkinnya kehidupan diluar bumi, namun tidak ada 'seorang'pun yang menampakkan dirinya pada manusia bumi sekarang ini. Where is everybody?
Kehidupan dibumi didukung oleh panas matahari. 'Kebetulan' yang menjadikan jarak bumi sesuai untuk terbentuknya kehidupan, menjadi suatu anugrah yang perlu disyukuri. Dengan melihat banyaknya bintang lain yang diikuti oleh planet-planet dalam tata suryanya. Bukanlah tidak mungkin, disuatu tempat, di tata surya sana, atau di galaksi lain yang luasnya tidak terkira, ada 'bumi' lain dengan makhluk hidup didalamnya. Seperti juga Venus dan Mars, yang dulunya mendapatkan proporsi cahaya dan panas matahari yang sesuai untuk jaraknya namun sekarang terlupakan (ditemukan ada tanda-tanda kehidupan dari kedua planet itu). Sungguh beruntung bumi, yang sekarang kita rusak ini.
Alien exist. God not.
Gambar2 diambil dari:
http://www.zmescience.com/
http://www.spacetoday.org/
http://www.indonesia-tourism.com
Wrote by Laura 1 comments
To Kill Oneself

I always think how great it is to kill oneself, i mean to destine our own fate, to terminate when we want to live no more, to have the real freedom of our self. How wonderful!
Hahaha.. Am i delusional? I dun think so. It is logical - at least in my own thought.
Well, lately I frequently remind my partner to kill me if there is something happen to me (accident, illness, or anything which makes me less than 'thinking-man'). I wanna be burn to ashes in my death.
I am so damn curious for what actually afterlife means. Just like the egyptians. I wonder whether my heart will weigh heavier than the feather or not. I want to know about the judgment. Well,,
I will face the answers soon. Whenever i am ready for, whenever i think 'enough'.
Wrote by Laura 0 comments
Sunday, September 14, 2008
Bisikkan Setan
Human nature. Blaming things other than self.
Tapi mungkin saja hal tersebut benar, bisikkan setan mempengaruhi manusia melakukan kejahatan (apapun itu). Mari kita telusuri.
Orang-orang yang melakukan kesalahan, biasanya mengatakan ’aku tidak tahu mengapa aku melakukannya’. Misalnya saja dua sejoli yang sedang jatuh cinta. Sudah satu bulan ini hubungan cinta mereka berjalan sangat mulus, rasa sayang tanpa adanya keinginan untuk melakukan lebih (belum). Tiba-tiba saja suatu hari, keduanya berada pada waktu dan tempat yang sangat sesuai. Bang! Terjadilah! Ketika ditanya, dua sejoli itu diminta untuk mereka ulang mengapa mereka akhirnya bisa kebablasan melakukan hal tersebut. Mereka menjawab,
”Aku tidak tahu. Biasanya kami tidak memiliki nafsu itu, namun kemarin itu aku benar-benar merasa mencintainya dan ingin melakukan apapun untuk dia. Sepertinya setan sedang lewat dan mempengaruhi aku untuk melakukan hal tersebut”
Bukan hanya melakukan hubungan seks ’terlarang’, tapi juga korupsi, berbohong, mencuri, memperkosa, dsb, biasanya orang-orang itu tidak mengerti mengapa mereka melakukan hal tersebut, bahkan kadang ada yang merasa terasuk oleh roh jahat, dsb. Wah, bisa jadi ni, kan memang kerjaannya setan bukan untuk menjerumuskan manusia. Berarti manusia tidak bisa disalahkan atas dosa yang diperbuat, toh yang jahat kan si setan.
Tapi coba deh kita ambil situasi lain. Kata orang ketika bulan puasa tiba maka semua makhluk jahat dikurung. Klo makhluk jahat dikurung, maka manusia bebas donk dari melakukan perbuatan ’dosa’ kan ga ada yang bisikkin? Assikkk.. ^^ Tapi...Masih adakah kejahatan di bumi ketika bulan puasa tiba?
Glek! MASIH! Malahan terkadang lebih banyak, maklum butuh untuk uang lebaran.
Jadi, kita tidak bisa menyalahkan setan atas perbuatan jahat yang kita lakukan. Bukan setan yang mempengaruhi manusia. Manusialah yang jahat! Manusialah yang harusnya bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan. Tapi... yah sekali lagi, itulah sifat dasar manusia, menyalahkan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Selalu mencari kambing hitam untuk disalahkan, agar dirinya ’seakan’ terbebas dari tuntutan apapun.
Interesting, yet ironic!
Wrote by Lo 0 comments
Here:
Dosa,
Human Nature
Sunday, September 7, 2008
Apa itu Dosa? - 3
Apa itu dosa? Pernahkah kita mendapat suatu definisi yang jelas dari dosa?
Dosa itu adalah ketika manusia melanggar aturan Allah. Melanggar perintah Allah.
Cerita 3 (terakhir)
Seorang anak F usia 4 tahun yang membunuh adiknya yang baru saja lahir 2 bulan sebelumnya. Alasan F adalah sejak kelahiran adiknya, ia merasa (padahal orang tuanya cukup perhatian kok) kurang diperhatikan orang tuanya, F iri kemudian membunuh adiknya. F kalut dengan pisau yang ia pegang, kemudian keluar dari rumah mencoba melarikan diri, dan tertabrak mobil kemudian meninggal.
Pertanyaannya:
(1) F masuk surga atau neraka (udah malas nanya dosa atau tidak)?
Ya neraka lah. Jelas-jelas F membunuh karena iri! Hmm, tapi part of me mengatakan ’come on, she’s just a child!’ So, aku ga tau, bukan urusan aku dia masuk neraka atau tidak.
(2) Hey, jangan melepas tanggung jawab dunk, kamu kan yang menceritakan cerita ini, masa lepas tangan begitu saja dengan berkata bahwa ini bukan urusan kamu?! Huh!
Setelah dipikir-pikir. Apa sih dosa itu? Ga ada yang benar-benar bisa mendefinisikan. Bahkan ketika membunuh (yang dianggap orang sebagai dosa) diceritakan dengan latar belakang berbeda, mungkin akan terjadi pergulatan ’ayolah ia tidak sejahat itu, ayolah ia tidak tahu apa yang ia lakukan, dan ayolah yang lain’. Well, orang-orang fanatik pasti dengan bangganya akan menunjuk ’DOSA TUH’. Ya betul membunuh itu dosa, jika pengertian dosa adalah melanggar perintah Tuhan. Namun pernahkah kita berpikir apa yang mendasari perbuatan tersebut? Apa yang menjadikan DIA orang yang sejahat itu. Hanya dengan melihat cover manusia menghakimi orang lain, ’ia berdosa’.
(3) Tuhan menggunakan umatnya untuk mengingatkan yang bukan umatnya untuk bertobat dari dosa. Jadi bukan masalah untuk menghakimi orang lain itu berdosa.
Oh ya? Aku rasa tuhan bilang ’jadikanlah semua bangsa muridku’, dengan kata lain mengabarkan kebesaran tuhan alih2 menghakimi orang berdosa. Mbok ya lebih damai dan lebih asik yukk kita percaya sama tuhan, dia baik loh, dia bisa menghapus semua kesedihan kamu. Akan lebih baik seperti itu, sehingga X, A, F (karena tersakiti pada cerita 1, karena gangguan mental akibat trauma kekerasan pada cerita 2, dan anak yang tidak tahu apa-apa menganggap orang tua tidak sayang pada dirinya pada cerita 3), homoseksual, kleptoers, gossipers, pengemis, pencopet, korupsiers, atlit, dsb semua bisa merasa dirinya diterima, dan syukur2 dengan inisiatif sendiri bisa berubah. Orang yang melakukan dosa kan juga ciptaan tuhan atas keragaman, semua manusia toh juga memiliki dosa. Apa sih yang menyebabkan saya/anda berbeda dalam hal dosa sehingga bisa menunjuk orang lain dan menghakiminya.
(4) Tapi kan kita bisa saling menunjuk dan saling berbenah diri menuju manusia yang lebih baik seperti firman Tuhan
No! Big NO! Kalau orang yang ditunjuk mau nerima? Nah kalau engga????? Perang besar!! Saling benci jadinya! Makanya banyak perselisihan, pro-kontra aborsi lah, pro-anti gay lah, pro-anti free-sex lah. Akhirnya yang anti semakin menumbuhkan rasa benci terhadap perilaku yang diantiin, dan yang pro merasa tertekan disalah-salahin akhirnya benci juga sama yang anti terhadap mereka. Duh, duh mo jadi apa dunia ini.
(5) Jadi maksudnya, kita diam-diam saja tanpa peduli orang lain mo melakukan dosa apapun kek.
Uhm.. Bukan begitu juga. Tapi untuk dunia yang lebih baik, dibandingkan menunjuk orang, lebih baik menelaah diri sendiri dulu dalam proses individuation. Jadikanlah diri kita masing-masing manusia yang utuh, kemudian dibanding menghakimi orang lain, lebih baik kita mengajak orang lain untuk juga melakukan inviduation ini.
Saya rasa kunci dari perdamaian dunia adalah individuation, ketika tidak ada lagi kebencian dan prasangka terhadap orang lain. Saling menghargai, saling mencintai.
(6) Hahaha, utopia!
Setidaknya tidak memberikan harapan palsu seperti yang dijanjikan agama. Perubahan dimulai dari diri, dan merupakan pencarian pribadi.
*berharap untuk dunia yang lebih damai* no violence!
Wrote by Lo 0 comments
Apa itu Dosa? - 2
Apa itu dosa? Pernahkah kita mendapat suatu definisi yang jelas dari dosa?
Dosa itu adalah ketika manusia melanggar aturan Allah. Melanggar perintah Allah.
Cerita 2.
Seorang laki-laki berusia 24 tahun, A. Seorang pembunuh berantai (masih diambil dari buku ’basic instinct’, setiap membunuh korban pasti ditemukan dalam keadaan telanjang dengan kaki terpotong. Wanita itu tidak diperkosa, A hanya meikmati memandang kaki korbannya dan beramasturbasi sebelum membunuhnya. Masa kecil A, jika berbuat kesalahan sedikit apapun akan dihukum pukulan menggunakan ikat pinggang dengan celana terbuka sampai kaki. Ayah A adalah seorang PETINGGI AGAMA, menanamkan nilai-nilai kitab suci kepada A dan saudara-saudaranya, menganggap hukuman sebagai cara untuk menebus dosa seorang anak kecil A. Ayahnya paling membenci dosa seksual, namun pada suatu hari ketika sudah puas memukuli A, ayahnya pergi kemudian diikuti oleh anak-anaknya, ternyata ayahnya melakukan masturbasi. Tingkah laku A sebagai sociopath, atau psikopat, terlihat jelas penyebabnya, yaitu penanaman agresi sejak masih sangat kecil, sehingga pikirannya tentang menyakiti sudah membias dengan norma moral yang seharusnya.
Dosakah A? Langsung pada pertanyaan saja:
(1) Apa yang menyebabkan A menculik, masturbasi, memotong kaki, dan membunuh korbannya?
Betul sekali. Penanaman keluarga sejak kecil. Bagi orang awam amit-amit membunuh anjing, kasian banget, tapi tidak dengan orang yang biasa menyantap daging anjing sehari-hari. Bagi orang awam, secara moral menyakiti orang lain itu tidak baik dan kalau bisa tidak dilakukan, tapi tidak bagi mereka yang selama 18 tahun dari kecil melihat ayah yang menyakiti ibu dan juga diri serta saudara-saudaranya dengan brutal. Sehingga akhirnya A ter’ekspose dengan kejahatan, rasa takut, sehingga mentalnya menjadi terganggu (gila bisa dibilang).
(2) Apakah A dosa?
Dosa dunk. Kan A membunuh. Walaupun mental A sudah rusak sehingga menjadikannya pembunuh berdarah dingin. Walaupun A hanya melakukan ’imitasi’ dari apa yang ia lihat dikeluarganya sejak kecil. Tetap saja A membunuh.
(3) Seberapa besar dosa yang A lakukan ketika sebenarnya ’yang membunuh bukan lagi A sebagai manusia utuh, melainkan A yang sudah terdistorsi oleh pengaruh lingkungan sejak ia masih kecil yang menjadikannya secara mental ’sakit’’?
John Locke pernah mengatakan teori manusia sebagai Tabula Rasa. Anak-anak adalah tabula rasa, sebuah kertas putih yang kosong. Lalu kertas itu diisi oleh lingkungannya (yang terdekat adalah keluarga). Mau jadi apa anak tersebut, tinggal ’menulis’ dalam tabula rasa tersebut, sampai akhirnya ia dewasa. Bahkan teori ini membuat ahli behavioris bernama John B. Watson yang memberikan tantangan ’berikan aku 10 anak, dan aku bisa mendidik anak tersebut sampai menjadi 10 orang berbeda, mulai dari dokter, pencuri, ilmuwan, dsb.
Tapi jika berbicara tentang dosa, aku tidak tahu seberapa berat dosanya. Ketika setiap orang akan mempersalahkan, mengutuk, meludahi A karena apa yang ia lakukan, tidak ada yang mengerti apa yang terjadi pada A kecil ketika ia masih polos tabula rasa, sampai kekejian menjadi tulisan utama dalam kertas kosong kehidupan A.
(4) Jadi A bakalan masuk neraka, atau masuk surga?
Terlepas dari kepercayaanku akan surga dan neraka (tak ada), aku pikir i really have no idea about this question. Jika dilihat dari perbuatannya, kan parah banget tuh bunuhnya dipotong pula kakinya, banyak lagi yang dibunuh, dan A bukan membunuh karena uang, tapi hanya kepuasan! Namun, jika ditinjau secara lebih seksama, dibalik semua kekejian A, bukankah ia tidak pernah memilih untuk berada didalam keluarga yang penuh kekerasan? Bukankah ia ketika masih kecil dan polos tidak mengetahui apa2 tapi dicekoki kekejian dan abuse yang menjadikannya sebagai sociopath?
(5) Loh2? Mengapa Anda seakan-akan membela A? Padahal banyak orang juga mengalami apa yang A alami, yaitu domestic abuse. Namun tidak semua dari mereka melakukan hal yang sama dengan A, yaitu membunuh secara keji.
Iya, itu betul. Banyak orang lain yang juga mengalami yang A alami. Tapi tidak ada orang yang identik dengan A, secara motivasi, ketahanan terhadap stress, kecerdasan, tingkat depresi, dsb. Ketika perbedaan itu muncul, hasil akhir pun muncul secara berbeda. Mungkin dari orang lain, selain A yang Anda tunjukkan juga mengalami hal yang sama dengan A, tidak melakukan pembunuhan karena memiliki ’nasib’ genetis yang lebih baik dari A. Mengapa saya bilang ’nasib’? Karena gen itu terberi. Mungkin orang lain yang mampu bertahan itu memiliki gen yang lebih kuat terhadap stres, lebih termotivasi, lebih independen dalam hidup. Mungkin...
Manusia bukanlah robot dengan input 1+1=2. 1+1 bagi manusia adalah 1 genetis/ sifat/ kepribadian dan 1 lingkungan, keduanya pasti memberikan hasil beragam jika dijumlahkan.
Jadi argumen Anda pada pertanyaan (5) ini tidak bisa menyudutkan A dengan membandingkan kasus serupa lainnya.
Wrote by Lo 0 comments







