I Am Lora LoBaK

Recent Comments

our craps

Categories

My Activites

Sunday, July 6, 2008

MatahariKU

Matahari, simbol kehidupan yang disembah dihampir setiap peradaban kuno dunia. Dewa Amun oleh bangsa Mesir. Tezcatlipoca oleh Bangsa Aztec. Xiuhtekutli di Meso-Amerika. Begitu juga di Jepang.

Matahari memegang peranan penting dalam kegiatan manusia. Apalah hari tanpa matahari. Hari tanpa sang surya bukanlah hari (day). Jika begitu tidaklah mengherankan bagi manusia jaman dulu untuk mengaguminya, menjadikannya dewa, memujanya, bahkan tidak sedikit pemuja yang memberikan nyawanya sebagai pengorbanan untuk matahari agar tetap bersinar.

Jika manusia modern sekarang berpikir bahwa Tuhanlah pencipta kehidupan di bumi, dan Tuhan juga yang akan mendatangkan ‘hari terakhir’ bagi kehidupan bumi, mereka salah besar! Mataharilah yang memberikan kehidupan bagi bumi. Termasuk oksigen yang kita hirup setiap harinya.

“Pada mulanya, Allah menciptakan langit dan bumi”

Kejadian 1:1

Pada mulanya adalah matahari. Satu dari miliaran bintang di galaksi Bimasakti. Matahari, bongkahan massa dengan pembakaran hidrogen terus menerus mengikat planet-planet disekelilingnya untuk mengabdi, setiap tahun sepanjang hidup untuk mengelilinginya dalam lintasan elipse yang disebut orbit. Sampai sekarang kita mengenal delapan pengikut tetap sekte pemuja matahari.

Beruntunglah bagi bumi. Tahta yang tersedia untuknya berjarak sempurna bagi cahaya dan panas matahari untuk memancarkan energinya. Dimulai dari makhluk bersel tunggal pertama sampai puluhan ribu tahun evolusi untuk menghasilkan koloni besar bagi planet bumi hingga sekarang.

Jika begitu, manusia jaman dulu mengambil langkah yang bijaksana untuk memuja matahari sebagai dewa. Alur berpikir yang tepat menunjukkan bahwa masuk akal untuk memuja matahari jika mengetahui apa yang telah dilakukan sang surya untuk kehidupan ini.

Yang menjadi masalah adalah: apakah manusia pada saat itu sudah mengetahui rahasia kehidupan ribuan tahun sebelum manusia modern mengetahuinya? Bandingkanlah dengan manusia sekarang yang mengaku tidak lagi berpikiran primitif namun dengan butanya menaruh kepercayaan pada suatu sosok tuhan sebagai pencipta yang sama sekali tidak memiliki dasar apa-apa. Iman, mereka menyebutnya. Masuk akalkah?

T.H.I.N.K!

Aku memuja matahari karena keindahannya. Mulai dari ia bersinar diufuk saat fajar, sampai terbenamnya di pesisir barat, aku mengaguminya. Kecantikan dari bintang tunggal tata surya.

Aku sangat berterima kasih kepada Galileo yang telah menemukan cara mengobservasi matahari. Dengan begitu, aku bisa melihat matahari dengan mata telanjang, seperti sedang menelanjangi diri menatap apa yang telah ada sebelum kehidupan ada.

Sejak SD aku mulai bermimpi tentang matahari. Sejak aku mengaguminya ketika aku memiliki kesempatan melihat gerhana melalui proyeksi bidang datar yang diberikan pamanku. Mimpi itu terkadang berulang dan semakin sering hingga sekarang.

Pada mimpi itu, aku berada pada sebuah ruang dengan kegelapan total. Aku memandang diriku melayang dalam kehampaan. Tiba-tiba muncullah sinar dan semua benda angkasa mengapung disekitarnya. Matahari, Merkurius, Venus, Mars, dan planet luar lainnya. Aku menduduki bumi. Aku menggantikan bumi.

Sinar itu begitu indah, membuatku ingin terus menatapnya. Sinar itu seakan memberikanku energi untuk terus terikat dalam sebuah lintasan orbit, mengelilinginya dan tak pernah terlepas. Begitu juga dengan planet lainnya. Semakin lama, semakin dekat. Ketika aku mencapai jarak terdekat dengan matahari, aku mencoba meraihnya. Tiba-tiba saja aku terdorong arus untuk semakin medekatinya, aku bisa merasakan panasnya membakar tubuhku. Untuk keindahannya, seakan aku rela memberikan hidupku untuknya. Daya gravitasi mendorongku mendekatinya dan bersatu dengannya, Sang Kehidupan.

Mimpi itu selalu berakhir ketika aku bangun. Energi persatuan dengan sang surya membuatku bersemangat mencari tahu lebih jauh tentang astronomi, dan juga bangsa yang telah memujanya bagaikan dewa.

Disinilah aku sekarang, memujanya, dan memuja bangsa yang telah memujanya.

2 comments:

WisnuMurti said...

dan mimpi indah itu,
selalu berakhir dgn:

"Loraaa banguunnn,
udah siang,
mandi berangkat ke sekolah,
ini makanannya keburu dingin,
jgn males2, ntar mama jewer loh...
moco olohh.. bangunnn.. Loraa.."

El-Lo said...

Itu bukan aku yang mimpi.. :p Tokoh ciptaan aku yang kemudian akan diinterpretasikan mimpinya oleh Om Jung.. :p

 

Pink Girlz Blogger Template | Blogger Clicks Design