“Oke. Kalo anda ingin berdebat tentu saja bisa anda cari Antitesa dari Tesa2 saya. Sekalian lawan juga opini saya, kalo anda sanggup.”
Aku tidak ingin berdebat, napa juga berdebat? I’m about arguing! See?! I give arguments. Tesa tuh pernyataan yah? Uhm, kenapa harus mencari antitesa dari tesa Anda?? Haruskah aku mengatakan bahwa El-Lo bukan wanita gitu? Atau El-Lo adalah wanita itu namanya: FIKSI? He? *confuse face* Sorry, just didn’t catch what u meant with antitesa. Melawan opini Anda klo SAYA sanggup? He? *another confuse face* Hahahaha. Baca aja yah!
1. Tesa 1 dan 2 kayanya ga penting buat di argumen, tapi aku akan langsung ke tesa 3, yang mungkin didalam argumen pertama ini menjawab keseluruhan tesa-mu (dengan bahasa Nothingreallymatter: cari antitesa dari tesa2 saya). Ini semua aku dapat dari kamus yang ada di laptop aku.
“Kenapa ada Believe dan Trust dalam Bahasa Inggris
Konon katanya (bisa aja persepsiku salah) Trust untuk mewakilkan persepsi dan believe untuk mewakilkan iman. So..kalo kita menggunakan persepsi kita untuk menalar tuhan..ya ngga nyambung dong.
Jika anda tidak punya iman maka anda tidak akan bisa menalar tuhan(Tesa 3).”
Believe (v): accept (something) as true; feel sure of the truth of.
Trust (v): believe in the reliability, truth, ability, or strength of.
Jawabannya: betul sekali persepsi-mu salah tentang believe dan trust. Keduanya tidak digunakan dengan perbedaan persepsi dan iman. Iman (faith) adalah iman! Persepsi adalah persepsi! Percaya (believe n trust) adalah percaya! Namun setiap unsur percaya pasti ada hal ‘metafisik’ (entah belum terjadi, entah tidak yakin, tapi meyakini sesuatu) yang disebut HOPE (I’m not saying faith). Nalar sendiri yah.
Faith (n) : complete trust or confidence in someone or something.
Hope (n) : a feeling of expectation and desire for a certain thing to happen.
JIKA dan hanya JIKA memang persepsi-mu mengenai trust benar, maka kenapa dalam arti ‘faith’ dikatakan complete TRUST?? Bukannya ‘complete belief’??? ;)
Dan satu hal lagi, menurut aku mengapa sebenarnya tidak bisa menggunakan ‘believe’ sebagai iman. Dikatakan believe adalah menerima sesuatu sebagai BENAR.
True: in accordance with fact or reality
BENAR berhubungan dengan FAKTA atau REALITAS.
Fact: a thing that is indisputably the case.
FAKTA adalah sesuatu hal yang indisputably, hal yang undeniable. Tak terbantahkan! Berdasarkan urutan pemikiran ini, ketika seseorang berkata ‘I believe in God’, apakah tuhan itu adalah FAKTA yang tak terbantahkan (berhubungan dengan opini ke-2 kamu, jawabannya disimpen dulu klo gitu dibawah)? Bukankah seharusnya ‘I have faith in God’? I hate language haha!!
“Karena dengan itulah kita bisa menyempurnakan belief (bukan lagi sekedar persepsi) yang kita miliki”
LAGIPULA (PALING PENTING NEH): Who’s talking about ‘believe’ anyway?? I was talking about ‘BELIEF’! Ketika persepsi menjadi sesuatu yang dipercayai dan diintegrasikan menjadi BELIEF dalam kehidupan kita! FYI: belief is equal to values! ^^
à JAWABAN TESA 3: Jika aku tidak punya iman, maka aku tidak akan bisa menalar tuhan. Sapa bilang? Menalar=to reason
Reason (v): a cause, explanation, or justification for an action or event.
Action/event: God is KIND/LOVE.
Explanation: Tuhan mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia (tidak perlu IMAN untuk menalar klo berkorban itu adalah wujud kasih), Tuhan menyertai bangsa Israel sampai ke tanah perjanjian yang penuh dengan madu dan susu (tidak perlu IMAN untuk menalar klo tuhan itu baik in this case), ketika Tuhan membunuh tujuh puluh orang HANYA karena melihat kedalam tabut Tuhan – 1Sam 6:19 (sangat memerlukan IMAN untuk menalar bahwa tuhan itu kasih (dan maha pengampun)).
Anggap aku orang percaya. Oke ketika sampai pada Tuhan ternyata membunuh tanpa memberikan kesempatan kedua, sebagai orang beriman aku akan menalar tuhan mempunyai rencana untuk segala sesuatu. Setelah itu pertanyaannya adalah, apa rencanaNya? Maka jawabnya adalah ‘ya tuhan, rencanaMu bukanlah rencana manusia, siapakah aku yang bisa membaca rencanaMu (ada tuh ayatnya ;p)’. Sampai disini penalarannya berhenti dengan jawaban memuaskan dan indah bagi orang percaya.
Aku yang ateis: Benarkah itu merupakan penalaran? SEBAB, PENJELASAN? Yang aku lihat hanyalah justifikasi. Karena penjelasan pembunuhan tidak sinkron dengan kenyataan bahwa tuhan itu baik! Tapi dengan iman, kejadian pembunuhan itu bisa dikatakan sebagai baik! Singkatnya, dengan IMAN pun, seseorang tidak bisa dikatakan MENALAR Tuhan! (hanya justifikasi belaka) Toh orang percaya mentok-mentok akan berargumen ‘kita tidak bisa menyelami (menalar) pikiran tuhan, karena kita hanyalah ciptaan’. Iman dan penalaran berbeda secara konteks. Klo baca tulisanku tentang indicator #1 God is alien, maka aku menalar apa yang tertulis dalam alkitab tentang tuhan, bukan menalar tuhan. Aku menalar apa yang dikatakan orang terhadap Tuhan! Aku menalar apa yang dikatakan pendeta tentang Tuhan! Aku menalar Tuhan (secara umum) dari apa yang tertulis, apa yang dikatakan orang. I just simply arguing. If God is LOVE, then please kindly show me, if u can’t, then LOGICALLY and SIMPLY God isn’t kind.
Persepsi seorang atheis: Orang sudah terlalu terbiasa menganggap tuhan sebagai sesuatu yang WAH, yang ideal! Padahal dalam kenyataannya tidaklah seperti itu! Nah sehingga walaupun dalam kenyataannya tuhan itu tidak ideal, maka orang akan tetap saja mempercayai klo tuhan itu WAH dan baik. Klo kata Jung adalah archetype (kaya theme yang ada dalam diri manusia) ‘the old man’, seorang yang bijaksana. Sayangnya setiap manusia memiliki archetype tersebut dalam collective unconscious. (aduh susah ni jelasin konsep Jung, kompleks soalnya bisa berlembar-lembar untuk menjelaskan archetype sendiri – google aja dih, tapi konsep ini seru banget kapan2 mao tulis ah diblog). Lebih jauh lagi manusia yang fully functioning adalah manusia yang melihat jauh kedalam ketidaksadarannya. Oleh karena itu dikatakan ‘All thinking (reflected) men is atheist’! Sedangkan manusia yang ‘tidak berpikir’ secara sederhana terus membohongi diri sendiri dengan konsep-konsep ideal tentang tuhan!
(tambahan archetype: tuhan sebagai bapak yang baik. Hanyalah ingin menggambarkan keadaan ideal seharusnya seorang bapak, padahal kenyataannya tuhan bukanlah bapak yang cukup baik secara psikologis – Ia sering memberikan punishment, yang sebenernya tidak cukup efektif untuk membentuk tingkah laku seseorang (harusnya reinforcement – google aja), next writing yah di blog ini)
Oh ya satu hal lagi soal menalar tuhan. Franz Magno Suseno aja nerbitin buku ‘menalar tuhan’, mosok Tuhan tak bisa dinalar. Ditekankan bahwa manusia punya kemampuan untuk reasoning apapun mo dia punya iman ato ga. Mang binatang. :p
2. Menanggapi opini satu dari nothingreallymatters
“Menurut saya pertanyaannya bukan : apakah tuhan itu ada atau tidak?
tetapi : Apakah keyakinan kita tentang tuhan (terserah apakah keyakinan kita dia tidak ada, atau dia ada, atau mungkin anda meyakini anda sendirilah tuhan itu) membuat kita bahagia? (tidak jauh2 dari tulisanmu yang terdahululah..). (Opini 1)”
Lah? Kan itu menurut Anda. Menurut saya pertanyaannya tetap adalah tuhan itu ada atau tidak! Dan itulah yang aku cari, jika memang ada ‘sosok tuhan’ yang patut disembah, maka menjadi kewajibanku untuk menyembahnya. Secara sederhana analognya jika ada orang yang baik sama kita, masakah kita jahat sama dia? Klo ada sosok tuhan yang patut disembah masakah kita tidak menyembahnya? Kebahagiaan itu adalah hal lain. Keyakinan akan tuhan hanyalah beririsan kecil dengan kebahagiaan.
Oke pertanyaannya adalah, apakah El-Lo bahagia? Damn, SHE IS! Pertama adalah pencarianku dan penalaranku akan tuhan (jika ada), akan siapa aku, darimana aku, apa tujuanku, apa yang telah dilakukan nenek moyangku untuk mencari tahu asal usulnya. Disitulah muncul curiosity dan love of learning, dua kekuatan utama dalam virtue kebahagiaan menurut Seligman dalam buku Authentic Happiness, yaitu wisdom and knowledge. The curiosity then becomes ‘flow’ which makes me feel alive and happy!
I am not about to disturb ones’ happiness for arguing what they believe! I AM QUESTIONING THEM ABOUT WHAT THEY BELIEVE AND WHY SO. Mungkin mereka punya jawabannya yang lebih masuk akal dibandingkan, ‘just blindly believe, honey’.
Curhat colongan: aku ga pernah menggangu kepercayaan orang lain. Aku hanya memberikan apa yang aku temukan dalam pencarianku (sharing). Klo menurut mereka apa yang mereka percaya itu bisa membantu mereka dalam hidup, go ahead I dun care, aku hanya mempertanyakan saja dan berargumen. Teman2 aku tau aku tidak/belum (walaupun pernah) percaya tuhan, atau berpikir bahwa tuhan itu alien, dan aku tidak menganggu kepercayaan mereka atau memaksa mereka untuk percaya atau lebih lagi menyerang kepercayaan mereka. Mereka tau kok klo aku sering menanyakan semua hal yang menurut aku membingungkan. Hehe, tapi terkadang synical sih, tentang iman. Misalnya ketika ada seseorang yang berkata tidak yakin bahwa dia mampu menghadapi sesuatu hal, aku akan nyeletuk nyindir yang dibalut humor, ‘doa aja, kamu kan percaya banget sama Yesus, tidak ada yang mustahil bagi dia, betul? Amin!’ Nah tapi aku secara tulus memberikan argumen itu, buat apa toh takut klo emang kamu percaya Tuhan maha baik dan mengasihimu. ^^
3. Menanggapi opini 2 dari nothingreallymatter
“Menurut saya bicara tentang tuhan ngga ada habis2nya. ada tuhan kristen, ada tuhan muslim, ada tuhan budha, hindu, sinto, kong hucu, ah...banyak bangat..pusing (selama kita menggunakan persepsi kita, bullshit kalo dibilang tuhan itu satu..dan kayaknya bullshit juga kalo dibilang tuhan itu ada).Yahh biar enak gunakan iman ajalah (kalo anda punya dan kalo anda care). Dan lagi alangkah bijaksana kalo menalar tuhan itu digunakan lewat perenungan pribadi aj, daripada adu argumen : debat kusir seperti jalan tak ada ujung. Menalar tuhan adalah proses berdamai dengan diri sendiri. (Opini 2)”
Itu kan menurut Anda! Menurut aku bicara tentang tuhan memang tidak ada habisnya, banyak hal yang masih bisa digali, dan disitulah letak SERU-nya. Masak karena tuhan itu banyak lalu berhenti mencari, menyerah karena pusing? Hahahaha! Come on! “Yahh biar enak gunakan iman ajalah (kalo anda punya dan kalo anda care)”. He?? Apa Anda mencoba mendikte apa yang harus aku lakukan dari pencarian ini?? Aku ga cari enak, sori aja yah, aku cari ‘kebenaran dan pengetahuan’! Menalar tuhan sebagai perenungan pribadi, how selfish! Mungkin penalaran akan tuhan pada awalnya adalah perenungan pribadi, tapi tidak semua orang memiliki kemampuan itu. Oleh karena itu ada namanya ibadah bersama, sharing, kelompok-kelompok rohani! Aku tidak ADU argumen, aku SHARE argumen, terimalah jika masuk akal atau setidaknya sebagai pengetahuan, melihat dari sudut pandang yang berbeda, melihat dari belahan pisau yang berbeda bukan dari tajamnya saja. Dun u pay attention to what I wrote?
“…orang yang mencari kebenaran dan mencintai pengetahuan akan terus berpikir dan mempertanyakan kembali persepsi yang ia miliki. Apakah persepsi yang AKU miliki sudah benar! Dan ga ada kata ‘percuma’ untuk kembali tahu atau mengisi pengetahuan, even membagi persepsi kepada orang lain. Karena dengan itulah kita bisa menyempurnakan belief (bukan lagi sekedar persepsi) yang kita miliki.”
Apa sih salahnya share? Memperkaya diri sendiri dan orang lain juga. Lagipula KALO ternyata tuhan itu tidak ada dan aku tidak membagikan pengetahuan aku tentang itu, wah feel guilty! :P Hahahaha.
Spranger dalam bukunya ‘Type of Men’ tahun 80-an mengatakan bahwa manusia memegang value tertentu dalam hidupnya, ada enam yang paling sering muncul, yaitu pengetahuan (teoritis), keindahan (estetik), kekuasaan (power), ekonomi, spiritual, dan sosial. Aku menghargai values yang dipegang orang lain, it is not my business. BUT, I just want u to know that this is my value, it is more teoritical than spiritual, please put some respect on it.
4. Menanggapi komentar dari nothingreallymatter
“Anda mengatakan, menunjuk pada dalil2 anda bahwa tuhan itu tidak ada (menurut persepsi anda)..itu sah2 saja, dan tidak ada yang salah, juga tidak ada yang istimewa didalamnya.”
U r rude. I dun like it. Ketika kamu mengklik publish comment yang sedang aku tanggapi ini, sebenarnya kamu memberikan persepsi kamu. Dan kamu bilang ‘klo mo debat coba cari antitesa dan lawan opini saya kalau Anda sanggup’. Apa toh bedanya dengan komen-mu yang penuh dengan ‘jangan debat kusir tak ada habisnya, jangan adu argumen, jadikan perenungan pribadi aja, dll’ sedangkan Anda mencoba menantang saya berdebat (kusir? Karena yang saya baca semua komen berisikan pendapat Anda, yang belum tentu sama dengan saya, belum tentu sama dengan dia). Kata-kata ‘kalau Anda sanggup’ mengindikasikan kepercayaan diri Anda menganggap apa yang Anda komen(persepsi)-kan yang paling benar. Apakah perbedaannya dengan memaksakan kehendak keyakinan akan suatu tuhan tertentu pada orang lain? Bahkan lebih jauh lagi Anda mencoba mendikte saya (agar saya menggunakan iman-jika punya dan care). Are you telling me what to do? Who are you anyway? Aku saja selalu memasukkan kata-kata T.H.I.N.K dalam persepsi aku tentang Tuhan yang mengindikasikan ‘inilah yang aku ketahui, pikirlah apakah masuk akal, atau apakah sebenernya aku salah’. Who’s debating here?? Not me.
What are you? A lawyer? No wonder then. ^^’
Anyway, sorry pendapat aku tentang komen kamu juga somekind rude, abis ditantang sih. Sebagai perempuan sejati kan harus menerima tantangan, klo perlu ikut gladiator (loh?). Kali ini tamparan pipi kiri aku balas juga dengan tamparan haha (sekarang kan bukan jamannya Yesus). Tapi aku pikir2 mungkin kamu ga bermaksud untuk rude, cuma kata-kata kamu aja yang terlihat kasar (menurut persepsi aku, weks lagi2 persepsi). Mungkin lain kali dibicarakan dengan dialog bukan untuk lawan2an tapi untuk berbagi dan bertukar pikiran saja. Ok? Jadi tanggapi bagian2 yang logis aja yah. ;)
Colongan lagi: ngomong2 kasar, kok tulisan pisank tentang amrik rada kasar yah, hahaha! Tatut jadinya, emosi dia wakakakkka! ^O^
So, have I knocked U out in this post, Nothing?? :P






5 comments:
jah dikira persepsi session 2:
ada nama WisnuMurti.. zzzz...
padahal dah keburu narsis duluan..
but u're the one tooo rude Lor :)
brute force the point,
ntar orgnya kabur loh..
walau sedikit tak setuju dgn nothings,
aku mencoba reverse mind bentar
ketika anda membuat blog ini di internet,
dan ada kotak comment disana,
maka semua org berhak menulis,
example, tulisan nothings,
yups it's just mengajak debat kusir,
apa sih enaknya? tergantung masing2,
daya tangkap khan berbeda, ada kalanya dia menambah pandangannya dengan cara seperti itu..
not because, "its me, u must be me"
but, actually aku seperti km,
tp aku kurang yakin pandanganku, maka aku memposisikan diri sebagai opposite
dan beradu argumen dgn km...
aku menjawab dgn analisa,
tessa or tessis or skripsi or
whatever the f*ck*ng name,
punya org lain
"So, have I knocked U out in this post, Nothing?? :P"
absolutly No,
hohoho.. ikannya kepancing...
justru ini yg saya inginkan..
thanks el-lo...
but balasan comment diatas,
jikalau aku yg menjadi nothings
so pasti jd boring banged deee...
tapi terlihat sisi penulis:
1. tak ingin digurui
2. tak ingin disalahi tanpa alasan
3. tak ingin persepsi yg sangat2 subjektive
4. bahasa inggrisnya bagus
5. bisa sedikit bahasa perancis
*ngaruhhhh yaaaaa?* tanya aja...
mang sapa anda, me-nilai2 diri org?
bukan menilai tapi cuman ngeliat doankk..
+ ngetik... :)
:reverse:
Ah, komen wisnu ini ga jelas banget.. banyak kata2 'aku, anda' sapa se??
dah gitu
"but balasan comment diatas,
jikalau aku yg menjadi nothings
so pasti jd boring banged deee..."
balasan komen sapa, yang mana??
Btw, aku dah menyiapkan tulisan yang akan really2 knock u out ded..
Tulisan yang akan menjadi tulisan terakhir tentang persepsi.. :P
yeah.. "really2 knock u out ded"...
persepsi andakah?
ternyata anda lebih tau diri saya,
daripada diri saya sendiri :)
nb:
7annya sedikit meramaikan..
tp sebelumnya harap maklum,
apabila anda merasa tidak memahami
maksud comment2 saya..
dan mungkin anda menulis comment
dari comment yg tidak anda pahami
i dunno..
and i dunt "really2" care,
nulis comment disini seperti
cemilan/lari2 kecil..
ngupil dimalam hari..
atau sesekali menepuk nyamuk..
:)
dan yg saya perhatikan
saya hanya butuh bebarapa "menit" menulis commentar dari tulisan anda,
dan anda butuh beberapa "hari" untuk membuat post yg isinya,
mengomentari commentar saya/org lain.. :)
begitukah? :)
Wisnumurti,
saya hanya butuh bebarapa "menit" menulis commentar dari tulisan anda,
dan anda butuh beberapa "hari" untuk membuat post yg isinya,
mengomentari commentar saya/org lain.. :)
MAKSUD LU???
Kamu mo nyentil El-Lo dengan kalimat itu? Pengen bilang kalo kamu sebagai orang yang cuma bisa comment lebih hebat dari El-Lo yang menulis post?
Dengan kalimat kamu kayak gitu, bukannya nyentil El-Lo, yang ada malah kamu nabok muka kamu sendiri.
Tapi emang biasa sih kalo komentator itu ngerasa lebih hebat walopun pada kenyataannya cuma bisa 'ngebacot' doank. Misalnya yah, komentator sepak bola paling bisa bilang si ini maennya jelek, si itu harusnya begini.. blablabla.. Tapi dia sendiri bisa gak maen sepak bola?
Ada benarnya, El-Lo mungkin memerlukan beberapa hari untuk membuat tulisan untuk diposting di blog ini. Dan kamu hanya perlu beberapa menit saja untuk menulis komen. Ya iyalah kamu cuma perlu beberapa menit, kan kamu cuma bisa comment yang modalnya 'nyocot' doank. Sementara El-Lo kan perlu mengolah ide dulu, menentukan mo ngebahas dari view yang mana, perlu kreatifitas juga untuk menyajikannya agar enak dibaca dan bisa dimengerti oleh orang yang baca.
Hellehh.. Pengen sih ngomel panjang lebar, tapi keburu hilang mood. Wakakaka... Tapi emang gak bisa dibandingin juga sih antara El-Lo yang terus belajar untuk menjadi lebih kreatif dengan Wisnumurti yang kreativitasnya udah mentok sampe ngupil dimalam hari. Wakakakaka..
Wisnumurti, mending kamu update tuh sailendra biar aku bisa balas comment juga. Sekalian buat kamu membuktikan kalo kamu gak cuma bisa 'comment' doank. Masa sailendra cuma diisi cerita pocong? Yang lebih berisi dunk. Kay?
Btw, udah wisuda lu?
It's okay babe..
Dari kualitasnya kita akan ketahui.. Bukannya aku butuh beberapa 'hari', aku hanya sedang malas menulis, tapi ide tentang apa yang akan aku tulis udah melayang didalam otak.. Dan akan benar2 menjadi tulisan terakhir mengenai persepsi di blog ini, tak terbantahkan! ^^ Tunggu aja.. Mungkin senen ato selasa, baru sempet nulis.. :) I gotta lots to do..
Dan satu hal, komen dari Wisnu itu terdengar sarkastik dan 'seakan' berisi, namun sebenarnya hanyalah konsep2 tanpa contoh yang jelas.. INtinya komen WM ini tidak se'berisi' yang ia kira.. ^^
Dah ah malas menunjuk orang lain,malah ngomongin orangnya bukan isi tulisan dan isi otak.. kayanya dah mentok kali jadi dia mengomentari hal lain diluar tulisan..
Fuh.. Typical of Human, i mean man.. Small man, HUGE EGO..
Post a Comment