Anggaplah aku pembela kaum homosexual. Namun apa yang sebenarnya aku lakukan adalah I stand for humanity and for a better world. ^^
Sebenarnya aku sudah mengecap diriku ignorant untuk masalah ini, tapi kayanya lagi pada seru neh, masa ketinggalan sih buat speak up the truth! Haha..
Hal ini dimula dari seorang teman gay yang meng-sms aku malam-malam bertanya apakah aku bisa OL. Dari situ tiba-tiba saja aku menebak ‘Kenape? Palingan juga forum yang lagi ngejelekin homo kan? Sudahlah.. Mereka yang bilang homo itu dosa juga bukan orang yang tanpa cela. Mereka tidak pernah merasakan jadi homoseksual makanya mereka tidak akan pernah mengerti’. Balasan sms yang ngecap itu ternyata benar, ia memintaku untuk membalas omongan di forum itu. Wakakakak, you think gue apaan? Saint for the gay? :D Bahasanya ‘membela’. Hahahahah.
YOU NEVER BEEN THEM!! THAT’S WHY YOU WILL NEVER UNDERSTAND WHAT THEY DEALING WITH!
Adalah orang yang dengan innocent nya menyertakan ayat yang mengatakan bahwa homoseksual adalah dosa, LOH??? Kok tidak menyertakan ayat lain dimana ANDA sendirilah yang dituding pada ayat tersebut?! Ayat kitab suci itu BERIBU, klo Anda memberikan SATU yang mengatakan homosekual dosa, mungkin Anda memiliki BERATUS ayat yang menuding pada diri Anda itu berdosa, mengapa memulai menunjuk orang lain? Tunjuklah diri sendiri!
Let’s talk religion. Ada pepatah mengatakan, ‘siapa yang tidak berdosa, boleh melemparkan batu PERTAMA kepada wanita yang melakukan perzinahan (pelacur)’. Sekarang aku katakan, ‘siapa yang merasa tidak bercacat cela, dan merasa lebih saleh hidupnya dibandingkan homoseksual, boleh berdiri dan mulai memberikan argumennya tentang DOSA kaum homo’.
Tema posting ini adalah ‘Kamu tidak pernah jadi mereka’. Sebuah renungan:
In my teens (sekarang udah kepala dua haha), aku selalu berpikir BEGO banget orang yang merokok, TOLOL banget orang yang lari dari masalah dengan alkohol, MALAS banget para pengamen, DOSA banget orang yang melakukan SEKS sebelum nikah (jangankan seks, pegang2 juga udah dosa tuh!), JAHAT banget psikopat yang membunuh demi kesenangan, TEGA banget orang yang selingkuh, KOK pelaku agama tapi bla,bla,bla… Dan semua itu aku katakan karena I HAD NEVER BEEN THEM!
Ketika aku mencoba EMPATI. Menjadi mereka: merokok, alkohol. Aku mulai mengubah nilai yang sebelumnya aku pegang, dan memudarkan benci terhadap kebodohan yang dulunya tak pernah bisa kumengerti. Pernahkah kamu selingkuh? AKU PERNAH! ^^ Dan aku mulai mengerti that human can fall. Setinggi-tingginya bajing melompat pasti bisa jatuh kan? Pepatah itu tidak main-main, toh petinggi agama aja tiba-tiba bisa poligami, atau pejuang mahasiswa yang tadinya melawan korupsi eh ketika menjadi staf pemerintahan bisa ikut ngantongin duit mengikuti arus ‘budaya korupsi’ Indonesia. Lalu-lalu?
Kemudian aku mulai menJUSTIFIKASI perbuatanku. Bukankah justifikasi adalah hal mudah yang manusia lakukan kalau membela diri sendiri? Tapi kok susah banget yah untuk mengerti atau empati atau lebih lagi justifikasi untuk orang lain karena kita tidak pernah menjadi mereka (atau tinggal menunggu waktu kita ‘menjadi’ mereka supaya kita mulai bisa menjustifikasi apa yang tadinya kita anggap salah?).
Sampai beberapa bulan terakhir ini aku tetap berpikir kalo pengamen itu adalah pemalas yang mencari mudahnya saja tidak bekerja namun mendapatkan uang (ENAK SEKALI!). Kok tidak USAHA sih cari kerja yang lebih baik, dll. Tapi kan, sekali lagi, aku tidak pernah jadi mereka! Sampai pada suatu saat ada pengamen yang mengatakan ‘bapak dan ibu, bukannya kami tidak mencoba, bukannya kami tidak berusaha ya bapak ibu, kami juga pernah mencoba melamar kerja tapi selalu ditolak karena ijazah kami hanya lulusan SD’.
Wah2, langsung tertampar aku! Aku tidak pernah menjadi mereka! Coba bayangkan, coba empatilah, tempatkan diri Anda pada posisi mereka: kemiskinan, sudah mencoba namun ditolak berkali-kali yang membentuk learned helplessness (konsep psikologis dimana seseorang sudah tidak berdaya lagi karena kegagalan berkali-kali yang terjadi) pada diri, hopeless, tapi tetap harus makan! Tapi ada keluarga yang harus dinafkahi! Tapi adik sedang sakit dan pengobatan mahal! Tapi GIMANA DUNK? Ga ada yang terima kerja, kalo adapun kerja RODI tapi uang sedikir, ga cukuppppp…. Apa yang akan kalian lakukan? Jadi pengamen? (Haha tapi tamparan ini belum cukup mengubah sikapku apakah akan memberi uang pada mereka atau tidak) ^^
Sama halnya dengan homoseksual. Ketika seseorang memilih menjadi homoseksual, pernahkah kita mencoba mengerti apa yang ada dibalik pilihan mereka itu? Trauma yang mendasari mereka memilih? Atau secara sederhana hormon pada diri mereka yang memaksa mereka untuk menjadi homoseksual? PERNAHKAH KITA MENJADI MEREKA sehingga kita mempersalahkan mereka dengan apa yang mereka pilih?
Aku tidak akan pernah menjadi mereka! Aku tidak akan pernah melakukan dosa ‘seperti itu’. Oh yeah?? Life is not simulation of the mind, of the ideal one. Life is practical! Mungkin nasib tiba2 turn u upside down sehingga kau harus mengemis, mungkin nasib tiba-tiba mempertemukanmu dengan sekretaris cantik nan menggoda sehingga kau bisa selingkuh, mungkin nasib meletakkan gepokan uang didepan hidungmu sehingga kau akan korupsi. Mungkin pacarmu terlalu seksi sehingga kau tidak tahaaannn. Mungkin dan hanya mungkin seorang teman sejenis yang sangat perhatian lalu tanpa kau sadari kau mulai menaruh hati padanya (kaya Brokeback Mountain). Mungkin…
Tulisan ini hanyalah sebagai renungan. Bukan kapasitas aku untuk menjabarkan panjang lebar tentang apa yang homoseksual alami sehingga mereka memilih demikian. Mungkin pada posting lain, atau googling tulisan-tulisan yang subjektif dapat memberikan kita semua pencerahan agar lebih empati. Menjadikan dunia lebih damai dan cinta terhadap sesama dibandingkan prasangka dan tudingan kepada outgroup. Toh pada faktanya orang yang ngomongin orang lain adalah orang yang sebenarnya lemah (lihat posting aku sebelumnya yang berjudul ‘Why Prejudice’).
Thursday, August 28, 2008
Have You Ever Been Homosexual - Sebuah Renungan tentang Empati
Wrote by Lo
Here:
Thinking
Subscribe to:
Post Comments (Atom)






0 comments:
Post a Comment