Apa itu dosa? Pernahkah kita mendapat suatu definisi yang jelas dari dosa?
Dosa itu adalah ketika manusia melanggar aturan Allah. Melanggar perintah Allah.
Cerita 3 (terakhir)
Seorang anak F usia 4 tahun yang membunuh adiknya yang baru saja lahir 2 bulan sebelumnya. Alasan F adalah sejak kelahiran adiknya, ia merasa (padahal orang tuanya cukup perhatian kok) kurang diperhatikan orang tuanya, F iri kemudian membunuh adiknya. F kalut dengan pisau yang ia pegang, kemudian keluar dari rumah mencoba melarikan diri, dan tertabrak mobil kemudian meninggal.
Pertanyaannya:
(1) F masuk surga atau neraka (udah malas nanya dosa atau tidak)?
Ya neraka lah. Jelas-jelas F membunuh karena iri! Hmm, tapi part of me mengatakan ’come on, she’s just a child!’ So, aku ga tau, bukan urusan aku dia masuk neraka atau tidak.
(2) Hey, jangan melepas tanggung jawab dunk, kamu kan yang menceritakan cerita ini, masa lepas tangan begitu saja dengan berkata bahwa ini bukan urusan kamu?! Huh!
Setelah dipikir-pikir. Apa sih dosa itu? Ga ada yang benar-benar bisa mendefinisikan. Bahkan ketika membunuh (yang dianggap orang sebagai dosa) diceritakan dengan latar belakang berbeda, mungkin akan terjadi pergulatan ’ayolah ia tidak sejahat itu, ayolah ia tidak tahu apa yang ia lakukan, dan ayolah yang lain’. Well, orang-orang fanatik pasti dengan bangganya akan menunjuk ’DOSA TUH’. Ya betul membunuh itu dosa, jika pengertian dosa adalah melanggar perintah Tuhan. Namun pernahkah kita berpikir apa yang mendasari perbuatan tersebut? Apa yang menjadikan DIA orang yang sejahat itu. Hanya dengan melihat cover manusia menghakimi orang lain, ’ia berdosa’.
(3) Tuhan menggunakan umatnya untuk mengingatkan yang bukan umatnya untuk bertobat dari dosa. Jadi bukan masalah untuk menghakimi orang lain itu berdosa.
Oh ya? Aku rasa tuhan bilang ’jadikanlah semua bangsa muridku’, dengan kata lain mengabarkan kebesaran tuhan alih2 menghakimi orang berdosa. Mbok ya lebih damai dan lebih asik yukk kita percaya sama tuhan, dia baik loh, dia bisa menghapus semua kesedihan kamu. Akan lebih baik seperti itu, sehingga X, A, F (karena tersakiti pada cerita 1, karena gangguan mental akibat trauma kekerasan pada cerita 2, dan anak yang tidak tahu apa-apa menganggap orang tua tidak sayang pada dirinya pada cerita 3), homoseksual, kleptoers, gossipers, pengemis, pencopet, korupsiers, atlit, dsb semua bisa merasa dirinya diterima, dan syukur2 dengan inisiatif sendiri bisa berubah. Orang yang melakukan dosa kan juga ciptaan tuhan atas keragaman, semua manusia toh juga memiliki dosa. Apa sih yang menyebabkan saya/anda berbeda dalam hal dosa sehingga bisa menunjuk orang lain dan menghakiminya.
(4) Tapi kan kita bisa saling menunjuk dan saling berbenah diri menuju manusia yang lebih baik seperti firman Tuhan
No! Big NO! Kalau orang yang ditunjuk mau nerima? Nah kalau engga????? Perang besar!! Saling benci jadinya! Makanya banyak perselisihan, pro-kontra aborsi lah, pro-anti gay lah, pro-anti free-sex lah. Akhirnya yang anti semakin menumbuhkan rasa benci terhadap perilaku yang diantiin, dan yang pro merasa tertekan disalah-salahin akhirnya benci juga sama yang anti terhadap mereka. Duh, duh mo jadi apa dunia ini.
(5) Jadi maksudnya, kita diam-diam saja tanpa peduli orang lain mo melakukan dosa apapun kek.
Uhm.. Bukan begitu juga. Tapi untuk dunia yang lebih baik, dibandingkan menunjuk orang, lebih baik menelaah diri sendiri dulu dalam proses individuation. Jadikanlah diri kita masing-masing manusia yang utuh, kemudian dibanding menghakimi orang lain, lebih baik kita mengajak orang lain untuk juga melakukan inviduation ini.
Saya rasa kunci dari perdamaian dunia adalah individuation, ketika tidak ada lagi kebencian dan prasangka terhadap orang lain. Saling menghargai, saling mencintai.
(6) Hahaha, utopia!
Setidaknya tidak memberikan harapan palsu seperti yang dijanjikan agama. Perubahan dimulai dari diri, dan merupakan pencarian pribadi.
*berharap untuk dunia yang lebih damai* no violence!






0 comments:
Post a Comment