I Am Lora LoBaK

Recent Comments

our craps

Categories

My Activites

Thursday, August 28, 2008

Why Prejudice - Jungian Perspective

“To own shadow is to be responsible of (whether or not we like it).”
-Jung, A Very Short Introduction-


Kenapa dunia selalu penuh dengan kejahatan? Kenapa dunia selalu penuh dengan prasangka terhadap orang lain? Seberapa pun banyaknya para pembela kebajikan, kejahatan itu tetap ada. Begitu juga dengan prasangka terhadap kelompok lain yang semakin hari menggrogoti hati manusia dengan insecurity dan hatred.

Manusia memiliki dua sisi didalam dirinya. Yang pertama adalah persona. Persona adalah topeng yang kita pakai sehari-hari, sebagai seorang mahasiswa, sebagai wanita karir, sebagai pengusaha sukses, sebagai pengangguran. Persona adalah topeng yang mengikuti tuntutan sosial, dan topeng sebagaimana kita ingin orang lain melihat kita. Atau dengan kata lain persona adalah social archetype atau conformity archetype. Persona terbentuk sejak masa kecil melalui ekspektasi orang tua, guru, atau teman-teman, dan akhirnya menjadi suatu bentuk ‘tampilan’ akibat proses learning, sedangkan sisanya (tingkah laku yang tidak mendapat penguatan sosial) menjadi tersembunyi atau direpresi dalam ketidaksadaran dan menjadi sisi yang bersebelahan dengan persona. Namun persona, seperti juga asal katanya ‘personne‘ yaitu topeng yang biasa dipakai aktor pada masa Yunani Kuno, bukanlah Diri yang sebenarnya.

Sisi yang bersebelahan dengan persona adalah shadow. Berbeda dengan persona yang terletak pada kesadaran manusia, shadow berada pada alam ketidaksadaran. Shadow bersifat seperti kegelapan yang selalu mengikuti, yang tidak diinginkan, yang terkadang dihiraukan, namun tetap ada. Seperti bayangan yang tidak bisa terlepas dari obyeknya. Shadow yang dihiraukan kemudian muncul dalam bentuk mimpi, terkadang mimpi yang bersifat hostile, penuh kemarahan, dan ketakutan. Di dalam shadow berisi hal-hal yang ingin kita hindarkan, keinginan-keinginan yang bertentangan dengan norma sosial.

Yang paling penting begitu juga paling berbahaya dari shadow adalah archetype of enemy, predator, or evil stranger. Archetype ini muncul sejak tahun pertama manusia hidup, ketika ibu mendekati bayi maka bayi sudah mulai berpikir mengenai attachment, ia merasa nyaman atau sebaliknya merasa takut dan defensif ketika didekati oleh orang yang tidak ia kenali. Mulai dari sinilah seorang bayi, pada spesies apapun, sudah bisa membedakan antara teman atau lawan. Haruskah penerimaan atau penolakan untuk melindungi dirinya. Ini adalah shadow complex.

Shadow tetap berada pada diri seseorang melalui dua representasi yang telah ditanamkan melalui indoktrinasi sosial, yaitu perbedaan in-group dengan out-group, atau setan/iblis sebagai musuh yang harus diperangi. Setiap manusia memilikinya sebagai suatu kesatuan utuh. Kebaikan dan kejahatan didalam dirinya yang tidak bisa dipisahkan. Konsep ini bukanlah hal baru, namun bisa kita lihat dalam cerita-cerita, misalnya Dr. Jekyl and Mr Hyde, dan tuhan pada perjanjian lama yang membinasakan sekaligus mencintai umatnya.

Kita, sebagai manusia utuh, memiliki kebaikan dan kejahatan pada satu tubuh secara bersamaan. Namun ada yang dimunculkan ke-kesadaran dan ada yang berada dibalik kesadaran itu sendiri. Ketika suatu ancaman muncul, manusia memiliki sistem pertahanan diri (ego defense-mechanism), yaitu represi, penyangkalan, dan proyeksi. Ancaman itu kemudian di represi kedalam ketidaksadaran, disangkal keberadaannya, - walaupun disangkal tetap saja ada - sehingga seseorang memproyeksikan kepada orang lain.

Hal ini menjelaskan mengapa timbul prasangka dan kebencian kepada kelompok lain. Kebencian yang direpresi dan disangkal timbul dalam bentuk baru sebagai mekanisme diri yaitu membenci orang lain, dan menjadikan orang lain sebagai the devil yang sah-sah saja untuk dibenci, untuk dimusuhi, atau lebih lagi untuk dimusnahkan. Seperti Hitler pada holocaust atau dalam konflik antar etnis pada beberapa suku di Indonesia yang menewaskan ribuan orang.

Untuk menyelesaikan mekanisme diri yang secara otomatis dilakukan manusia ini, seseorang harus berani melihat kedalam shadow-nya. Hal ini dikatakan sulit, karena didalam shadow tersimpan semua hal yang tidak diinginkan, rasa malu, perasaan bersalah, rasa benci, dll. Namun, Jung melanjutkan, seberapa sakitnya seseorang harus melihat kedalam shadownya, hal tersebut sangat diperlukan. Karena didalam shadow terletak banyak kekuatan psychic yang membantu manusia mencapai keutuhan (wholeness).

Keutuhan terletak pada The Self (dengan kapital S), yaitu tujuan dari eksistensi yang sudah tercetak didalam blue print genetis spesies manusia. The Self mungkin serupa dengan konsep Brahma pada agama Hindu. Makna hidup manusia yang paling dalam, suatu fungsi transenden. Tidak heran kita bisa menemukan seni dan agama pada setiap kebudayaan universal yang menandakan bahwa manusia mencoba mencari sosok tuhan – yang sebenarnya sudah berada didalam dirinya sendiri (Self).

JADI…

Sudahkah kamu mengatasi shadow-mu? Mungkin jika ada waktu untuk merefleksikan, lihatlah kedalam diri. Jika kamu adalah orang yang cepat marah, cepat benci, cepat prasangka, suka gosip yang ngejelekin orang, uhmm dibandingkan ngurusin orang lain, prasangka yang engga-engga terhadap out-group, akan lebih baik waktu yang berarti ini digunakan untuk melihat kedalam dirimu sendiri. Sekalian turut menciptakan ‘a better world, full of peace’. ^^

“The devil is in you. Do you want to cope it, or simply project it over and over unto the never-ending cycle of prejudice to others? You choose!”

Have You Ever Been Homosexual - Sebuah Renungan tentang Empati

Anggaplah aku pembela kaum homosexual. Namun apa yang sebenarnya aku lakukan adalah I stand for humanity and for a better world. ^^

Sebenarnya aku sudah mengecap diriku ignorant untuk masalah ini, tapi kayanya lagi pada seru neh, masa ketinggalan sih buat speak up the truth! Haha..

Hal ini dimula dari seorang teman gay yang meng-sms aku malam-malam bertanya apakah aku bisa OL. Dari situ tiba-tiba saja aku menebak ‘Kenape? Palingan juga forum yang lagi ngejelekin homo kan? Sudahlah.. Mereka yang bilang homo itu dosa juga bukan orang yang tanpa cela. Mereka tidak pernah merasakan jadi homoseksual makanya mereka tidak akan pernah mengerti’. Balasan sms yang ngecap itu ternyata benar, ia memintaku untuk membalas omongan di forum itu. Wakakakak, you think gue apaan? Saint for the gay? :D Bahasanya ‘membela’. Hahahahah.

YOU NEVER BEEN THEM!! THAT’S WHY YOU WILL NEVER UNDERSTAND WHAT THEY DEALING WITH!

Adalah orang yang dengan innocent nya menyertakan ayat yang mengatakan bahwa homoseksual adalah dosa, LOH??? Kok tidak menyertakan ayat lain dimana ANDA sendirilah yang dituding pada ayat tersebut?! Ayat kitab suci itu BERIBU, klo Anda memberikan SATU yang mengatakan homosekual dosa, mungkin Anda memiliki BERATUS ayat yang menuding pada diri Anda itu berdosa, mengapa memulai menunjuk orang lain? Tunjuklah diri sendiri!

Let’s talk religion. Ada pepatah mengatakan, ‘siapa yang tidak berdosa, boleh melemparkan batu PERTAMA kepada wanita yang melakukan perzinahan (pelacur)’. Sekarang aku katakan, ‘siapa yang merasa tidak bercacat cela, dan merasa lebih saleh hidupnya dibandingkan homoseksual, boleh berdiri dan mulai memberikan argumennya tentang DOSA kaum homo’.


Tema posting ini adalah ‘Kamu tidak pernah jadi mereka’. Sebuah renungan:

In my teens (sekarang udah kepala dua haha), aku selalu berpikir BEGO banget orang yang merokok, TOLOL banget orang yang lari dari masalah dengan alkohol, MALAS banget para pengamen, DOSA banget orang yang melakukan SEKS sebelum nikah (jangankan seks, pegang2 juga udah dosa tuh!), JAHAT banget psikopat yang membunuh demi kesenangan, TEGA banget orang yang selingkuh, KOK pelaku agama tapi bla,bla,bla… Dan semua itu aku katakan karena I HAD NEVER BEEN THEM!

Ketika aku mencoba EMPATI. Menjadi mereka: merokok, alkohol. Aku mulai mengubah nilai yang sebelumnya aku pegang, dan memudarkan benci terhadap kebodohan yang dulunya tak pernah bisa kumengerti. Pernahkah kamu selingkuh? AKU PERNAH! ^^ Dan aku mulai mengerti that human can fall. Setinggi-tingginya bajing melompat pasti bisa jatuh kan? Pepatah itu tidak main-main, toh petinggi agama aja tiba-tiba bisa poligami, atau pejuang mahasiswa yang tadinya melawan korupsi eh ketika menjadi staf pemerintahan bisa ikut ngantongin duit mengikuti arus ‘budaya korupsi’ Indonesia. Lalu-lalu?

Kemudian aku mulai menJUSTIFIKASI perbuatanku. Bukankah justifikasi adalah hal mudah yang manusia lakukan kalau membela diri sendiri? Tapi kok susah banget yah untuk mengerti atau empati atau lebih lagi justifikasi untuk orang lain karena kita tidak pernah menjadi mereka (atau tinggal menunggu waktu kita ‘menjadi’ mereka supaya kita mulai bisa menjustifikasi apa yang tadinya kita anggap salah?).

Sampai beberapa bulan terakhir ini aku tetap berpikir kalo pengamen itu adalah pemalas yang mencari mudahnya saja tidak bekerja namun mendapatkan uang (ENAK SEKALI!). Kok tidak USAHA sih cari kerja yang lebih baik, dll. Tapi kan, sekali lagi, aku tidak pernah jadi mereka! Sampai pada suatu saat ada pengamen yang mengatakan ‘bapak dan ibu, bukannya kami tidak mencoba, bukannya kami tidak berusaha ya bapak ibu, kami juga pernah mencoba melamar kerja tapi selalu ditolak karena ijazah kami hanya lulusan SD’.

Wah2, langsung tertampar aku! Aku tidak pernah menjadi mereka! Coba bayangkan, coba empatilah, tempatkan diri Anda pada posisi mereka: kemiskinan, sudah mencoba namun ditolak berkali-kali yang membentuk learned helplessness (konsep psikologis dimana seseorang sudah tidak berdaya lagi karena kegagalan berkali-kali yang terjadi) pada diri, hopeless, tapi tetap harus makan! Tapi ada keluarga yang harus dinafkahi! Tapi adik sedang sakit dan pengobatan mahal! Tapi GIMANA DUNK? Ga ada yang terima kerja, kalo adapun kerja RODI tapi uang sedikir, ga cukuppppp…. Apa yang akan kalian lakukan? Jadi pengamen? (Haha tapi tamparan ini belum cukup mengubah sikapku apakah akan memberi uang pada mereka atau tidak) ^^

Sama halnya dengan homoseksual. Ketika seseorang memilih menjadi homoseksual, pernahkah kita mencoba mengerti apa yang ada dibalik pilihan mereka itu? Trauma yang mendasari mereka memilih? Atau secara sederhana hormon pada diri mereka yang memaksa mereka untuk menjadi homoseksual? PERNAHKAH KITA MENJADI MEREKA sehingga kita mempersalahkan mereka dengan apa yang mereka pilih?

Aku tidak akan pernah menjadi mereka! Aku tidak akan pernah melakukan dosa ‘seperti itu’. Oh yeah?? Life is not simulation of the mind, of the ideal one. Life is practical! Mungkin nasib tiba2 turn u upside down sehingga kau harus mengemis, mungkin nasib tiba-tiba mempertemukanmu dengan sekretaris cantik nan menggoda sehingga kau bisa selingkuh, mungkin nasib meletakkan gepokan uang didepan hidungmu sehingga kau akan korupsi. Mungkin pacarmu terlalu seksi sehingga kau tidak tahaaannn. Mungkin dan hanya mungkin seorang teman sejenis yang sangat perhatian lalu tanpa kau sadari kau mulai menaruh hati padanya (kaya Brokeback Mountain). Mungkin…

Tulisan ini hanyalah sebagai renungan. Bukan kapasitas aku untuk menjabarkan panjang lebar tentang apa yang homoseksual alami sehingga mereka memilih demikian. Mungkin pada posting lain, atau googling tulisan-tulisan yang subjektif dapat memberikan kita semua pencerahan agar lebih empati. Menjadikan dunia lebih damai dan cinta terhadap sesama dibandingkan prasangka dan tudingan kepada outgroup. Toh pada faktanya orang yang ngomongin orang lain adalah orang yang sebenarnya lemah (lihat posting aku sebelumnya yang berjudul ‘Why Prejudice’).

Nyah.. Nguik..

Aku dirimu.
Aku milikmu.
Aku kamu.

Jadikanmu milikku.
Kamu dan Aku.

Setelah semua hal yang telah terjadi, kau tetap berada disana, berdiri dan menatapku dengan tangan terbuka. Mencintaiku. Adakah dia yang tetap seperti itu menungguku?

Aku tidak bisa menjelaskan. Aku kaku, aku malu, aku lemah. Aku terjatuh pada lututku, menangis, memandang rendah diriku. Lebih hina dari ubi jalar. Kau mengangkatku dan mengusap tangisku dengan bibirmu.

Yesus aja tidak melakukannya untukku. Yesus tidak ada waktu aku jatuh. Tapi kau ada! Kau ada disisi menopangku. Dan janjimu seperti fajar pagi hari. Dulu, aku mati-matian membela Yesus dan tetap membodohi diriku sendiri bahwa Dia baik, dan dia akan menepati janjinya karena dia mencintai aku (tanpa bukti yang nyata, dan janjiNya sekedar janji).

Tapi kenapa aku sekarang dengan mudahnya meninggalkanmu dengan segala bukti bahwa kamu mencintai aku dengan sangat, bahkan aku pikir kamu rela mati buat aku – seperti Yesus (mengingat ketika kita kelaparan ga ada duit, kamu memberikan aku makanan terakhirmu).

Weleh… Bodohnya aku! Fortunately, human do not fall in the same pit twice, do they? ^^ Hahahaha..

Thursday, August 14, 2008

WHAT EDUCATION IS FOR – To Be Yourself!


Diambil dari: bpkpenabur.or.id

Untuk apa sih pendidikan itu? Setiap pagi anak-anak berangkat menuju sekolah, mengerjakan tugas, belajar, ujian, dan pulang. Kemudian keesokan paginya kembali mengulangi aktifitas yang sama. Untuk apa? Padahal jika dihitung-hitung, waktu yang telah kita, para mahasiswa, habiskan untuk sekolah dan kuliah hampir seluruh usia kita sampai saat ini loh!


Pernahkah kamu berpikir mengenai hal tersebut?


Hidup berisi sumber yang tak pernah bisa kita telusuri dan syukuri secara penuh. Apa itu hidup, dan untuk apa hidup itu? Hidup yang berisi tawa dan air mata. Hidup yang berisi kebaikan dan didalamnya juga terdapat keburukan. Hidup yang extraordinary beautiful!


Pernahkah kamu berpikir mengenai kehidupan?


Hmm, sayangnya orang biasanya hanya mempersiapkan sudut kecil dari kehidupan yang luar biasa indah ini. Kuliah. Lulus ujian. Mendapatkan pekerjaan sempurna. Menikah. Memiliki anak. Lalu? Sehari-hari semakin menyerupai mesin. Melakukan hal yang sama tanpa arti, tanpa arti akan kehidupan yang ‘kaya’ dan ‘sesungguhnya’. Sampai akhirnya ia menjadi tua. Is that all?


Pendidikan akan berguna ketika seseorang benar-benar mempergunakannya untuk lebih mengenal kehidupan lebih jauh. Keindahan sampai dengan kesengsaraannya, termasuk didalamnya alam yang begitu sempurna. Mungkin pendidikan bisa mendatangkan gelar, beberapa tambahan huruf pada nama kita, yang bisa berguna untuk mendapatkan pekerjaan, setelah itu? Menjadi semakin menyerupai mesin??? ^.^


Untuk apa pendidikan ketika ia hanya membawa ‘kebodohan’ bagi kita? Sehingga perasaan cemas, takut, dan khawatir akan hidup tetap menempel pada diri. Jadi, -menurut Khrisnamurti - selagi muda carilah makna kehidupan sedalam-dalamnya. Milikilah intelegensi, yaitu berpikir bebas, tanpa takut, tanpa rumus.


Jadilah dirimu sendiri untuk menemukan arti hidup yang sebenarnya. Jangan pernah takut untuk berbeda. Jangan pernah takut untuk mempertahankan ide. Ketika kesemua hal tersebut kita dapatkan dari berpikir bebas tentang hidup. Berpikir bebas bukan sekedar melakukan apa yang kita sukai, tapi lebih dari itu adalah untuk mengerti keseluruhan proses kehidupan!


Sayangnya lingkungan kurang mendukung kita untuk berpikir bebas. Sejak SD misalnya, kau tidak didukung untuk bertanya (apalagi tentang tuhan dan tradisi, ketika bertanya ‘mengapa?’ bisa langsung ditabok dan bilang ‘Udah ikutin aja! Who’s the master?!’ Haha). Padahal untuk berpikir sebebas-bebasnya diperlukan sebuah atmosfer kebebasan, tanpa rasa takut.


Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena mereka (yang tidak berpikir bebas) takut kalau ada orang-orang berpikir bebas, maka akan membawa bahaya bagi ‘kesalahan’ –pola pikir- mereka. Bahkan orang tua dan lingkungan mengurung kita untuk sebuah ‘comfort zone’ yang telah terbentuk berabad-abad. Hidup secara aman, tanpa kecaman pihak lain, namun tidak bebas. Tapi itu bukanlah hidup! Just immitating what’s been earlier! Hidup adalah mengetahui untuk dirimu sendiri apa yang benar!


To be educated is to discover, not to immitate! To LIVE is to discover the truth.


To LIVE is TO BE YOURSELF..


(Oleh: Lora berdasarkan buku ‘Think on These Things’ ; Khrisnamurti)

 

Pink Girlz Blogger Template | Blogger Clicks Design