I Am Lora LoBaK

Recent Comments

our craps

Categories

My Activites

Sunday, September 14, 2008

Bisikkan Setan


“Aku tidak berniat melakukannya. Aku terpengaruh bisikkan setan sehingga akhirnya aku melakukannya.”

Human nature. Blaming things other than self.

Tapi mungkin saja hal tersebut benar, bisikkan setan mempengaruhi manusia melakukan kejahatan (apapun itu). Mari kita telusuri.

Orang-orang yang melakukan kesalahan, biasanya mengatakan ’aku tidak tahu mengapa aku melakukannya’. Misalnya saja dua sejoli yang sedang jatuh cinta. Sudah satu bulan ini hubungan cinta mereka berjalan sangat mulus, rasa sayang tanpa adanya keinginan untuk melakukan lebih (belum). Tiba-tiba saja suatu hari, keduanya berada pada waktu dan tempat yang sangat sesuai. Bang! Terjadilah! Ketika ditanya, dua sejoli itu diminta untuk mereka ulang mengapa mereka akhirnya bisa kebablasan melakukan hal tersebut. Mereka menjawab,
”Aku tidak tahu. Biasanya kami tidak memiliki nafsu itu, namun kemarin itu aku benar-benar merasa mencintainya dan ingin melakukan apapun untuk dia. Sepertinya setan sedang lewat dan mempengaruhi aku untuk melakukan hal tersebut”

Bukan hanya melakukan hubungan seks ’terlarang’, tapi juga korupsi, berbohong, mencuri, memperkosa, dsb, biasanya orang-orang itu tidak mengerti mengapa mereka melakukan hal tersebut, bahkan kadang ada yang merasa terasuk oleh roh jahat, dsb. Wah, bisa jadi ni, kan memang kerjaannya setan bukan untuk menjerumuskan manusia. Berarti manusia tidak bisa disalahkan atas dosa yang diperbuat, toh yang jahat kan si setan.

Tapi coba deh kita ambil situasi lain. Kata orang ketika bulan puasa tiba maka semua makhluk jahat dikurung. Klo makhluk jahat dikurung, maka manusia bebas donk dari melakukan perbuatan ’dosa’ kan ga ada yang bisikkin? Assikkk.. ^^ Tapi...Masih adakah kejahatan di bumi ketika bulan puasa tiba?

Glek! MASIH! Malahan terkadang lebih banyak, maklum butuh untuk uang lebaran.

Jadi, kita tidak bisa menyalahkan setan atas perbuatan jahat yang kita lakukan. Bukan setan yang mempengaruhi manusia. Manusialah yang jahat! Manusialah yang harusnya bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan. Tapi... yah sekali lagi, itulah sifat dasar manusia, menyalahkan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Selalu mencari kambing hitam untuk disalahkan, agar dirinya ’seakan’ terbebas dari tuntutan apapun.

Interesting, yet ironic!

Sunday, September 7, 2008

Apa itu Dosa? - 3

Apa itu dosa? Pernahkah kita mendapat suatu definisi yang jelas dari dosa?


Dosa itu adalah ketika manusia melanggar aturan Allah. Melanggar perintah Allah.


Cerita 3 (terakhir)

Seorang anak F usia 4 tahun yang membunuh adiknya yang baru saja lahir 2 bulan sebelumnya. Alasan F adalah sejak kelahiran adiknya, ia merasa (padahal orang tuanya cukup perhatian kok) kurang diperhatikan orang tuanya, F iri kemudian membunuh adiknya. F kalut dengan pisau yang ia pegang, kemudian keluar dari rumah mencoba melarikan diri, dan tertabrak mobil kemudian meninggal.


Pertanyaannya:


(1) F masuk surga atau neraka (udah malas nanya dosa atau tidak)?

Ya neraka lah. Jelas-jelas F membunuh karena iri! Hmm, tapi part of me mengatakan ’come on, she’s just a child!’ So, aku ga tau, bukan urusan aku dia masuk neraka atau tidak.


(2) Hey, jangan melepas tanggung jawab dunk, kamu kan yang menceritakan cerita ini, masa lepas tangan begitu saja dengan berkata bahwa ini bukan urusan kamu?! Huh!

Setelah dipikir-pikir. Apa sih dosa itu? Ga ada yang benar-benar bisa mendefinisikan. Bahkan ketika membunuh (yang dianggap orang sebagai dosa) diceritakan dengan latar belakang berbeda, mungkin akan terjadi pergulatan ’ayolah ia tidak sejahat itu, ayolah ia tidak tahu apa yang ia lakukan, dan ayolah yang lain’. Well, orang-orang fanatik pasti dengan bangganya akan menunjuk ’DOSA TUH’. Ya betul membunuh itu dosa, jika pengertian dosa adalah melanggar perintah Tuhan. Namun pernahkah kita berpikir apa yang mendasari perbuatan tersebut? Apa yang menjadikan DIA orang yang sejahat itu. Hanya dengan melihat cover manusia menghakimi orang lain, ’ia berdosa’.


(3) Tuhan menggunakan umatnya untuk mengingatkan yang bukan umatnya untuk bertobat dari dosa. Jadi bukan masalah untuk menghakimi orang lain itu berdosa.

Oh ya? Aku rasa tuhan bilang ’jadikanlah semua bangsa muridku’, dengan kata lain mengabarkan kebesaran tuhan alih2 menghakimi orang berdosa. Mbok ya lebih damai dan lebih asik yukk kita percaya sama tuhan, dia baik loh, dia bisa menghapus semua kesedihan kamu. Akan lebih baik seperti itu, sehingga X, A, F (karena tersakiti pada cerita 1, karena gangguan mental akibat trauma kekerasan pada cerita 2, dan anak yang tidak tahu apa-apa menganggap orang tua tidak sayang pada dirinya pada cerita 3), homoseksual, kleptoers, gossipers, pengemis, pencopet, korupsiers, atlit, dsb semua bisa merasa dirinya diterima, dan syukur2 dengan inisiatif sendiri bisa berubah. Orang yang melakukan dosa kan juga ciptaan tuhan atas keragaman, semua manusia toh juga memiliki dosa. Apa sih yang menyebabkan saya/anda berbeda dalam hal dosa sehingga bisa menunjuk orang lain dan menghakiminya.


(4) Tapi kan kita bisa saling menunjuk dan saling berbenah diri menuju manusia yang lebih baik seperti firman Tuhan

No! Big NO! Kalau orang yang ditunjuk mau nerima? Nah kalau engga????? Perang besar!! Saling benci jadinya! Makanya banyak perselisihan, pro-kontra aborsi lah, pro-anti gay lah, pro-anti free-sex lah. Akhirnya yang anti semakin menumbuhkan rasa benci terhadap perilaku yang diantiin, dan yang pro merasa tertekan disalah-salahin akhirnya benci juga sama yang anti terhadap mereka. Duh, duh mo jadi apa dunia ini.


(5) Jadi maksudnya, kita diam-diam saja tanpa peduli orang lain mo melakukan dosa apapun kek.

Uhm.. Bukan begitu juga. Tapi untuk dunia yang lebih baik, dibandingkan menunjuk orang, lebih baik menelaah diri sendiri dulu dalam proses individuation. Jadikanlah diri kita masing-masing manusia yang utuh, kemudian dibanding menghakimi orang lain, lebih baik kita mengajak orang lain untuk juga melakukan inviduation ini.


Saya rasa kunci dari perdamaian dunia adalah individuation, ketika tidak ada lagi kebencian dan prasangka terhadap orang lain. Saling menghargai, saling mencintai.


(6) Hahaha, utopia!

Setidaknya tidak memberikan harapan palsu seperti yang dijanjikan agama. Perubahan dimulai dari diri, dan merupakan pencarian pribadi.



*berharap untuk dunia yang lebih damai* no violence!

Individuation - Jung Perspective on Being 'Human'

Segera ditulis.. ;)

Apa itu Dosa? - 2

(gambar diambil dari www.counselling-solutions.com.au)

Apa itu dosa? Pernahkah kita mendapat suatu definisi yang jelas dari dosa?


Dosa itu adalah ketika manusia melanggar aturan Allah. Melanggar perintah Allah.


Cerita 2.

Seorang laki-laki berusia 24 tahun, A. Seorang pembunuh berantai (masih diambil dari buku ’basic instinct’, setiap membunuh korban pasti ditemukan dalam keadaan telanjang dengan kaki terpotong. Wanita itu tidak diperkosa, A hanya meikmati memandang kaki korbannya dan beramasturbasi sebelum membunuhnya. Masa kecil A, jika berbuat kesalahan sedikit apapun akan dihukum pukulan menggunakan ikat pinggang dengan celana terbuka sampai kaki. Ayah A adalah seorang PETINGGI AGAMA, menanamkan nilai-nilai kitab suci kepada A dan saudara-saudaranya, menganggap hukuman sebagai cara untuk menebus dosa seorang anak kecil A. Ayahnya paling membenci dosa seksual, namun pada suatu hari ketika sudah puas memukuli A, ayahnya pergi kemudian diikuti oleh anak-anaknya, ternyata ayahnya melakukan masturbasi. Tingkah laku A sebagai sociopath, atau psikopat, terlihat jelas penyebabnya, yaitu penanaman agresi sejak masih sangat kecil, sehingga pikirannya tentang menyakiti sudah membias dengan norma moral yang seharusnya.


Dosakah A? Langsung pada pertanyaan saja:

(1) Apa yang menyebabkan A menculik, masturbasi, memotong kaki, dan membunuh korbannya?

Betul sekali. Penanaman keluarga sejak kecil. Bagi orang awam amit-amit membunuh anjing, kasian banget, tapi tidak dengan orang yang biasa menyantap daging anjing sehari-hari. Bagi orang awam, secara moral menyakiti orang lain itu tidak baik dan kalau bisa tidak dilakukan, tapi tidak bagi mereka yang selama 18 tahun dari kecil melihat ayah yang menyakiti ibu dan juga diri serta saudara-saudaranya dengan brutal. Sehingga akhirnya A ter’ekspose dengan kejahatan, rasa takut, sehingga mentalnya menjadi terganggu (gila bisa dibilang).


(2) Apakah A dosa?

Dosa dunk. Kan A membunuh. Walaupun mental A sudah rusak sehingga menjadikannya pembunuh berdarah dingin. Walaupun A hanya melakukan ’imitasi’ dari apa yang ia lihat dikeluarganya sejak kecil. Tetap saja A membunuh.


(3) Seberapa besar dosa yang A lakukan ketika sebenarnya ’yang membunuh bukan lagi A sebagai manusia utuh, melainkan A yang sudah terdistorsi oleh pengaruh lingkungan sejak ia masih kecil yang menjadikannya secara mental ’sakit’’?

John Locke pernah mengatakan teori manusia sebagai Tabula Rasa. Anak-anak adalah tabula rasa, sebuah kertas putih yang kosong. Lalu kertas itu diisi oleh lingkungannya (yang terdekat adalah keluarga). Mau jadi apa anak tersebut, tinggal ’menulis’ dalam tabula rasa tersebut, sampai akhirnya ia dewasa. Bahkan teori ini membuat ahli behavioris bernama John B. Watson yang memberikan tantangan ’berikan aku 10 anak, dan aku bisa mendidik anak tersebut sampai menjadi 10 orang berbeda, mulai dari dokter, pencuri, ilmuwan, dsb.

Tapi jika berbicara tentang dosa, aku tidak tahu seberapa berat dosanya. Ketika setiap orang akan mempersalahkan, mengutuk, meludahi A karena apa yang ia lakukan, tidak ada yang mengerti apa yang terjadi pada A kecil ketika ia masih polos tabula rasa, sampai kekejian menjadi tulisan utama dalam kertas kosong kehidupan A.


(4) Jadi A bakalan masuk neraka, atau masuk surga?

Terlepas dari kepercayaanku akan surga dan neraka (tak ada), aku pikir i really have no idea about this question. Jika dilihat dari perbuatannya, kan parah banget tuh bunuhnya dipotong pula kakinya, banyak lagi yang dibunuh, dan A bukan membunuh karena uang, tapi hanya kepuasan! Namun, jika ditinjau secara lebih seksama, dibalik semua kekejian A, bukankah ia tidak pernah memilih untuk berada didalam keluarga yang penuh kekerasan? Bukankah ia ketika masih kecil dan polos tidak mengetahui apa2 tapi dicekoki kekejian dan abuse yang menjadikannya sebagai sociopath?


(5) Loh2? Mengapa Anda seakan-akan membela A? Padahal banyak orang juga mengalami apa yang A alami, yaitu domestic abuse. Namun tidak semua dari mereka melakukan hal yang sama dengan A, yaitu membunuh secara keji.

Iya, itu betul. Banyak orang lain yang juga mengalami yang A alami. Tapi tidak ada orang yang identik dengan A, secara motivasi, ketahanan terhadap stress, kecerdasan, tingkat depresi, dsb. Ketika perbedaan itu muncul, hasil akhir pun muncul secara berbeda. Mungkin dari orang lain, selain A yang Anda tunjukkan juga mengalami hal yang sama dengan A, tidak melakukan pembunuhan karena memiliki ’nasib’ genetis yang lebih baik dari A. Mengapa saya bilang ’nasib’? Karena gen itu terberi. Mungkin orang lain yang mampu bertahan itu memiliki gen yang lebih kuat terhadap stres, lebih termotivasi, lebih independen dalam hidup. Mungkin...

Manusia bukanlah robot dengan input 1+1=2. 1+1 bagi manusia adalah 1 genetis/ sifat/ kepribadian dan 1 lingkungan, keduanya pasti memberikan hasil beragam jika dijumlahkan.

Jadi argumen Anda pada pertanyaan (5) ini tidak bisa menyudutkan A dengan membandingkan kasus serupa lainnya.

Friday, September 5, 2008

Authentic Happiness Neh

(Gambar diambil dari myspacegeek.com)

Site authentichappiness.org memberikan kuesioner-kuesioner yang dapat mengukur kebahagiaan seseorang. Didalamnya terdapat berbagai macam kuesioner, misalnya kuesioner kebahagiaan secara umum, pengukuran VIA kekuatan diri untuk bahagia, kuesioner mengukur depresi, dsb. Log in aja, gratis kok, dan dijamin realiabilitas dan validitasnya, hehe, soalnya disusun oleh orang hebat seperti Seligman ;).

Berikut adalah hasil yang aku dapatkan berdasarkan kuesioner VIA strength, yaitu kekuatan dalam diriku yang bisa digunakan untuk mencapai kehidupan yang bahagia.

1. Humor and playfulness: You like to laugh and tease. Bringing smiles to other people is important to you. You try to see the light side of all situations.
2. Judgment, critical thinking, and open-mindedness: Thinking things through and examining them from all sides are important aspects of who you are. You do not jump to conclusions, and you rely only on solid evidence to make your decisions. You are able to change your mind.
3. Perspective (wisdom): Although you may not think of yourself as wise, your friends hold this view of you. They value your perspective on matters and turn to you for advice. You have a way of looking at the world that makes sense to others and to yourself.
4. Bravery and valor: You are a courageous person who does not shrink from threat, challenge, difficulty, or pain. You speak up for what is right even if there is opposition. You act on your convictions.
5. Creativity, ingenuity, and originality: Thinking of new ways to do things is a crucial part of who you are. You are never content with doing something the conventional way if a better way is possible.

Wednesday, September 3, 2008

Apa itu Dosa? [dialog pribadi mengenai otoritas tuhan] - 1

Apa itu dosa? Pernahkah kita mendapat suatu definisi yang jelas dari dosa?


Dosa itu adalah ketika manusia melanggar aturan Allah. Melanggar perintah Allah.


Cerita 1.

Diambil dari buku ’basic instinct’ (bukan novel loh, tapi buku scientific yang bercerita mengenai agresi sebagai sifat dasar manusia). Seorang remaja wanita X berusia sekitar 14 tahun, besar dalam keluarga single mother, tertutup, selalu takut pergi ke sekolah karena ada teman wanita yang selalu mengejeknya, selain secara verbal teman wanita itu juga sering mem’bully’ X secara fisik. Pada suatu hari, X benar-benar tidak ingin sekolah karena takut dikerjai. X mencoba mengkomunikasikan dengan ibunya, namun sang ibu memaksa X untuk sekolah dengan mengancam. Karena sangat takut, X memutuskan untuk membawa pisau kesekolah untuk jaga2 jika temannya itu berani mengganggu dirinya. Seperti keseharian biasa, teman X mengejek di dalam bus sekolah, X terlihat sangat terganggu akhirnya mengeluarkan pisau dan menusuk dada temannya tersebut. Ketika X ditanya mengapa ia melakukannya, X menjawab ’tidak tahu’ dan sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah.


Dosakah X?


Untuk apa kita hidup? Untuk bertahan hidup.


Spesies manusia termasuk didalam animal kingdom. Ketika seekor hewan menghadapi predator (yang menyebabkan hewan tersebut takut), maka ada 2 hal yang akan dilakukannya: menghindar/ melarikan diri (flee) dan melawan (fight).


X dari cerita pertama, melakukan keduanya. Ketika menghindar sudah tidak lagi bisa ia lakukan, ia mencoba untuk melawan. Walaupun perlawanan yang dilakukan X sangat ekstrim (membunuh), namun cukup masuk akal jika ia melakukan hal tersebut karena rasa takut yang sudah tidak bisa lagi ia tahan.


Tidak heran banyak berita yang mengabarkan pembunuhan hanya dikarenakan sang pacar menerima sms dari lelaki lain. Hanya hal sepele (bagi yang mendengarnya), namun tidak bagi laki-laki itu! Menurutnya yang dilakukan oleh sang pacar sudah menimbulkan rasa sakit yang dalam, sehingga ia memutuskan untuk melawan.


Coba bayangkan diri Anda berada dalam duel koboi namun menggunakan pisau. Lawan Anda adalah seorang perampok yang akan membinasakan siapapun juga yang menghalanginya, ia akan menghabisi nyawa Anda! Mungkin kali pertama, Anda masih mencoba untuk melarikan diri. Perampok sedemikian semangat mengejar Anda, sehingga akhirnya berhasil membuat Anda tersudut. Dengan senyumnya yang penuh kekejian dan kepuasan menodongkan pisaunya keleher Anda. Mungkinkah Anda akan menyelamatkan nyawa Anda dengan membunuh perampok itu terlebih dahulu jika ada kesempatan? Atau Anda langsung membuang pisau tersebut, dan berkata, ”Bunuh saja aku, karena aku tidak ingin menyakitimu apalagi membunuhmu, itu dosa”. Apa yang akan Anda lakukan?? Saya percaya opsi kedua akan menjadi opsi terakhir yang akan Anda pilih.


Kembali pada X dan laki-laki yang membunuh karena cemburu. Mereka berdua sedang dikejar-kejar oleh perampok yang tadi diandaikan juga mengejar Anda. Mereka sudah mencoba melarikan diri, sekuat yang mereka bisa, secepat yang mereka mampu. Sampai akhirnya tetap terpojok. Kemudian mereka memilih opsi yang juga Anda pilih, to fight.


Mungkin didalam kepala Anda sekarang penuh dengan argumen ’tapi khan’. Tapi kan kalau soal perampok nyawa saya jadi taruhannya, noh kalo yang ntu cuma sms, cuma ejekan.


Sebesar apa sih stimulus perampok ketika Anda berkata, ’ini soal hidup dan mati bung!’


Aku percaya setiap manusia diciptakan beragam. Ada yang intelegensinya tinggi sampai down syndrom, ada yang kaya sampe turunan ketujuh sampai miskin mampus, dsb. Yang kita hadapi disini adalah orang-orang yang memiliki kecerdasan emosi yang rendah (dari lahir, atau memang tidak pernah memiliki kesempatan untuk mengembangkan kecerdasan emosi). Mereka mudah tersinggung, mereka mudah merasa takut, mereka tidak memiliki kendali atas diri mereka sendiri. Keragaman ini mungkin menjadikan sms yang menurut kita hal sepele menjadi persoalan hidup dan mati bagi mereka!


Bagi mereka yang kecerdasan emosinya rendah mungkin bisa diandaikan seperti hamsternya mamaku. Menurut aku, mama sangat sayang sama hamster itu sampai selalu diberi makanan yang terbaik, disayang-sayang, diajak jalan-jalan. Bahkan kalau lagi ga nafsu makan diberikan puding khusus hamster yang harganya mahal bangget! Tapi klo mama gendong, itu hamster tetep aja gigit mama. Padahal stimulus ’tangan’ mama itu untuk menyayang loh (sederhana, sepele, seperti stimulus sms atau ejekan), tapi dalam kacamata tikus mao disayang kek, atau apa kek, tetap saja itu tangan mengerikan seperti mau mijit gue sampe mati. Dalam kacamata para hamster tangan mama adalah ancaman bagi kehidupannya!


Pertanyaannya:

(1) Jadi, apakah X dosa?

Ya tetep dosa dunk. Kan membunuh! Perintah tuhan kan jangan membunuh! Walaupun sebenarnya X diciptakan dengan kecerdasan emosi yang rendah, kemampuan menalar moral yang lemah, dsb, tetap saja dosa karena membunuh.


(2) Seberapa besar dosa yang X pikul ketika kita sudah mengetahui bahwa X tidak serta merta memiliki keinginan ’jahat’ untuk membunuh, hanya refleks ketika menghadapi ancaman saja?

Hehe.. Ga tau de.. Bukannya ga ada dosa ringan atau berat? Dosa ya dosa.


(3) Yaudah de, karena kita tidak bisa mengukur kadar dosa, gimana kalau kita mencoba menilai kesalahan X. X itu sebenarnya pantas disalahkan atau tidak? Dengan kecerdasan emosi yang rendah sehingga dalam kacamata X, ia hanya mencoba membela diri terhadap ancaman?

Entahlah. Jika saya dalam posisi dia, dengan kecerdasan emosi yang sama rendah, dengan situasi yang sama, mungkin saya akan melakukan hal yang sama.



Keluaran 20:13

Jangan membunuh”


(Tambahan dari Lora: kecuali dalam peperangan menduduki tanah perjanjian (keseluruhan Perjanjian Lama hanya untuk menduduki tanah Kanaan, bangsa Israel bahkan Tuhan sendiri membunuh bangsa-bangsa lain); kecuali dalam peperangan mempertahankan nama baik agama (perang salib); kecuali membunuh orang yang tidak seiman; kecuali orang tersebut dengan tidak sengaja menjatuhkan tabut perjanjian tuhan (1 Sam : ); kecuali membunuh eksistensi seseorang dengan gosip dan fitnah; kecuali Aku (TUHAN) sendiri yang melakukannya karena Akulah Tuhan Maha Kuasa HAHAHA (wow justifikasi banget, atau munafik, ngelarang orang lain tapi diri sendiri melakukannya?! 1 Sam 6: 19 dll)).


(Gambar diambil dari testtriffic.com)

Terpujilah Tuhan!

 

Pink Girlz Blogger Template | Blogger Clicks Design